Batik Arta Kencana Pemalang, Bisa Produksi 50 Lembar Perhari

IKMAL – Berpedoman wanita bekerja adalah sunah, dengan niat bekerja tetapi tidak meninggalkan wajibnya mengurus keluarga maka pada tahun 2004 Batik “Arta Kencana” akhirnya saya dirikan. Saya Fatwa Diana Widi bertujuan mendirikan usaha batik dengan nama Arta Kencana. Selama selama 9 tahun saya sebagai staf laboratorium pewarnaan tekstil dan 5 th saya sebagai guru kimia di SMK TEXMACO Pemalang. Seiring dengan mulai populernya kain batik maka akhirnya saya serius menekuni usaha ini dan membuat merk batik Arta Kencana.

Awalnya batik “Arta Kencana” hanya memproduksi atau tepatnya menjual batik sintetis baik cap maupun tulis. Produksi yang dijual adalah barang jadi siap pakai.

Suatu saat dengan seringnya mengikuti pelatihan, salah satunya pelatihan warna alam, maka sejak tahun 2009 Batik “Arta Kencana” mulai mengembangkan dan memproduksi batik menggunakan pewarna alam. Dengan menggunakan pewarna dari alam didapat kelebihan tersendiri, yaitu warna alam ramah lingkungan dan warna alam mempunyai keunikan dibandingkan batik warna sintetis.

Untuk motif-motif yang dikembangkan oleh Batik “Arta Kencana” tidak hanya batik yang berpakem atau klasik saja, tetapi juga mengembangkan motif modern seperti batik abstrak. Dengan semakin seringnya batik “Arta Kencana” mengikuti pameran-pameran nasional di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, maka desain prodaks batik “Arta Kencana” semakin banyak dikenal.

Salah satu motif yang telah diciptakan dan dikembangkan oleh batik “Arta Kencana” adalah Motif batik gromyang. Motif grombyang ini adalah motif yang dikembangkan dari makanan khas Pemalang yaitu gromyang. Turunan atau variasi motif yang telah diciptakan dari motif grombyang sudah ada 8 motif. Dengan kerendahan hati, kami katakan ini adalah batik yang tercipta dari budaya kekhasan suatu daerah.

Batik merupakan ciri khas bangsa Indonesia, hanya saja beberapa waktu lalu keberadaan batik sempat diabaikan oleh sebagian anak bangsa, banyak diantara kita yang berangapan bahwa batik berkesan kuno,kaku dan ketinggalan jaman. Sampai pada saat ketika negara tetangga menemukan nilai batik yang sesungguhnya memiliki nilai seni dan nilai jual yang tinggi, kemudian berusaha mengakui batik sebagai budaya bangsa mereka. Moment tersebut akhirnya menjadi titik balik datangnya kesadaran bangsa Indonesia bahwa kita harus mempertahankan apa yang dimiliki bangsa Indonesia.

Dengan adanya pengakuan Batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tanggal 2 okober 2009, ini merupakan suatu kebangaan sekaligus tanggung jawab bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat Pemalang untuk tetap melestarikan budaya itu. Begitu juga Batik “Arta Kencana” berkeinginan juga bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pelestarian batik sebagai warisan budaya tak benda. Sebagai wujud tanggung jawabnya, Batik “Arta Kencana” sering mengadakan pelatihan membatik bagi siswa sekolah maupun umum untuk belajar membatik.

Pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa ketidak pedulian kita terhadap batik sebelumnya dikarenakan kita tidak mengenal batik yang sesungguhnya, tak kenal maka tak sayang, demikianlah kata pepatah bijak. Oleh karena itu mengenalkan batik sejak dini pada generasi bangsa dinilai sangat perlu untuk menimbulkan rasa memiliki dan cinta terhadap batik. Sehingga kelak akan lahir generasi bangsa yang bisa menghargai, mencintai dan memiliki kebangaan pada budaya bangsa serta diharapkan mampu melestarikannya sehingga batik akan menjadi budaya bangsa yang tak lekang oleh waktu. (Pml)

 

Author: Ikmal

Membangun masyarakat Pemalang yang cerdas, berkapasitas global santun dan berkebudayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!